Jumat, 25 Mei 2018

Proposal


Senin, 10 April 2017

contoh proposal pendidikan


postingan kali ini, saya ingin berbagi pengalaman menulis proposal . semoga bermanfaat . proposal ini jauh dari kata sempurna tetapi dapat memberikan kalian gambaran mengenai penulisan nya





PENGARUH MODEL ARTIKULASI TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS SD HARAPAN BANGSA KELAS IV
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penelitian Pendidikan
Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Oleh
ERIKA TRI BUDIARTI
NIA UTARI WULANDARI
REZKA TRIAN PRATIWI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM “45” BEKASI
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial serta tindakan pertamanya adalah tindakan sosial, suatu tindakan pertukaran pikiran, pengalaman, dan saling mengutarakan perasaan atau saling mengekspresikan. Oleh karena itu, diperlukan elemen umum dan disetujui serta dipahami oleh sejumlah masyarakat. Untuk menghubungkan sejumlah anggota masyarakat maka diperlukanlah komunikasi.
Komunikasi mempersatukan individu kedalam kelompok dengan menggolongkan konsep umum. Dengan kata lain masyarakat berada dalam komunikasi linguistik.  
Bicara adalah bentuk bahasa yang menggunakan kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan maksud. Karena bicara merupakan bentuk komunikasi yang paling efektif, keterampilan berbicara merupakan suatu keterampilan bahasa yang harus dikuasai dengan baik. Keterampilan ini merupakan suatu indikator terpenting dalam pembelajaran bahasa inggris.
Berhubungan dengan pernyataan diatas, Tarigan( 2008:18 ) menyatakan bahwa pengetahuan mengenai ilmu atau teori berbicara akan sangat bermanfaat dalam menunjang kemahiran serta keberhasilan seni atau praktek berbicara.
Menurut brown (2001) keterampilan berbicara merupakan suatu keterampilan yang kompleks dan berkaitan dengan berbagai keterampilan mikro , seperti  (1) mengahsilakan ujaran-ujaran bahasa yang bervariasi ; (2) mengahasilkan fonem-fonem dan alophon lisan yang berbeda dalam bahasa inggris; (3) mengahasilkan pola –pola tekanan kata-kata yang mendapat dan tidak mendapat tekanan struktur ritmis dan intonasi; (4) mengahasilkan bentuk-bentuk kata dan frasa yang diperpendek.

Namun berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pada SD HARAPAN BANGSA kelas IV ditemukan hal-hal sebagai berikut; (1) Pengucapan/Pronunciation yang tidak sesuai dengan native (2) penempatan grammar yang tidak sesuai  (3) penguasaan vocab yang terbatas dalam bahasa inggris. Hal tersebut disebabkan oleh rendahnya kreatifitas guru dalam menentukkan model pembelajaran, keterampilan berbicara pada siswa. Para guru pada saat proses belajar mengajar dikelas lebih berfokus pada keterampilan lain seperti keterampilan membaca (reading), keterampilan menulis (writing), dan keterampilan menyimak/mendengarkan (listening). Fenomena seperti ini merupakan permasalahan yang harus ditemukan solusi pemecahannya. Salah satu upaya yang dapat dijadikan pemecahan masalah adalah menerapkam pembelajaran keterampilan berbicara dengan “metode artikulasi”.
Model pembelajaran artikulasi memiliki tujuan untuk membantu siswa secara aktif dalam pembelajaran dimana siswa masing-masing dibagi dalam beberapa kelompok dan mempunyai tugas mewawancarai teman kelompok tentang materi yang dibahas. Konsep pemahaman sangat diperlukan dalam model pembelajan ini siswa diharapkan mampu bernalar dan berkomunikasi secara baik dalam suatu masalah.
Sebagai penunjang untuk mencapai tujuan yang dimaksud , maka terdapat konsep-konsep dasar dalam artikulasi yakni (bastiar , 2013) materi , yaitu artikulasi diorganisasikan dengan memilih materi yang berbeda-beda antar siswa dalam satu kelompok. Keterhubungan , yaitu artikulasi menekankan pada keterhubungan yang signifikan antara pokok bahasan dalam suatu materi.
Berdasarkan alasan diatas , pengamat ingin menyelesaikan masalah kurang aktifnya siswa saat KBM berlangsung dengan model Artikulasi sehingga berjudul Pengaruh Model Artikulasi Terhadap Keterampilan Berbicara Pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris SD Harapan Bangsa Kelas IV.
B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan oleh pengamat dapat diperoleh masalah sebagai berikut :
1.      Pengucapan/Pronunciation yang tidak sesuai dengan native
2.      penempatan grammar yang tidak sesuai
3.      penguasaan vocab yang terbatas dalam bahasa inggris.
C.     Batasan Masalah dan Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Bagaimanakah penerapan model artikulasi dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa inggris di kelas IV SD HARAPAN BANGSA?
2.      Bagaimanakah hasil pembelajaran keterampilan berbicara bahasa inggris setelah treatment atau tindakan dilakukan?
D.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan umum
Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas kegiatan “artikulasi” pada pembelajaran bahasa inggris dalam meningkatkan kemampuan berbicara. Efektifitas dalam penelitian ini berarti bagaimana artikulasi dapat meningkatkan aspek-aspek kebahasaan dari kemampuan berbicara,baik aspek lisan maupun aspek non lisan
2.      Tujuan khusus
Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk :
a)     Mengetahui permasalahan utama yang dialami siswa dalam bahsa inggris dari segi pelafalan, tata bahasa dan pemilihan kosakata bahasa inggis.
b)     Menggambarkan penerapan model artikulasi dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa inggris dikelas IV SD HARAPAN BANGSA
c)     Memperoleh gambaran tentang hasil pembelajaran keterampilan berbicara bahasa inggris setelah treatment atau tindakan dilakukan.
E.     Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini antara lain :
Bagi guru penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan dapat dijadikan model pembelajaran berbicara yang lebih efektif dan efesien dalam menerapkan keterampilan berbicara. Bagi siswa manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah meningkatkan motivasi dan keterampilan berbicara siswa di kelas.
F.     Definisi Operasional
Untuk menyamakan persepsi dan menghindari kesalahpahaman mengenai penelitian ini, maka pengamat memberikan penjelasan-penjelasan. berikut ini adalah penjelasan yang digunakan dalam penelitian :
Variabel (X) model pembelajaran artikulasi berasal dari kata articulateyang artinya pandai mengeluarkan pikiran dan mengucapkan kata-kata dengan jelas, artikulasi juga merupakan model pembelajaran baru (santoso,2011). Dengan indikator : siswa lebih aktif, memiliki keberanian , meningkatkan rasa percaya diri dan melatih daya serap pemahaman dari orang lain.
Variabel (Y) Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan (tarigan,2008). Dengan indikator : pelafalan (Pronunciation) , diksi (vocabulary) , intonasi dan kalimat efektif atau struktur kalimat (grammar).








BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERFIKIR DAN
 HIPOTESIS PENELITIAN
A.    Kajian Pustaka .
1.      Model Artikulasi
a.      Pengertian Model Artikulasi
Model pembelajaran artikulasi adalah model pembelajaran kooperatif. Menurut rusman (2012;202), pembelajaran kooperatif (kooperatif learning) merupakan bentuk pmbelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok kecil yang beranggotakan empat sampai enam orang yangbersifat heterogen
Menurut hamid (2011;226), pengertian model artikulasi adalah “model pembelajaran yang membuat siswa menjadi aktif dan berani menutarakan pendapatnya”. Adapun menurut ngalimun (2014;174), model pembelajaran artikulasi adalah “model pembelajaran dengan sintaks: penyampaian kompetensi, sajian materi, bentuk kelompok, berpasangan sebangku, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan.
b.      Langkah-langkah Model Artikulasi
Menurut suprijono (2013;127) langkah-langkah model pembelajaran artikulasi adalah sebagai berikut:
1.)    Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2.)    Guru menyampaikan materi.
3.)    Untuk mengetahui daya serap siswa, guru membentuk kelompok berpasangan dua orang.
4.)    Guru menegaskan salah satu siswa dari pasangan itu untuk menceritakan materi yang telah disampaikan guru dan pasangannya mendengarkan sambil membuat catatan kecil, kemudian keduanya berganti peran. Begitu pula kelompok lainnya.
5.)    Guru menugaskan siswa secara bergiliran atau diacak untuk menyampaikan hasil wawancaranya dengan pasangannya sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya.
6.)    Guru mengulangi atau menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami oleh siswa.
7.)    Kesimpulan atau penutup.
c.       Prinsip/Tujuan Model Artikulasi
Model pembelajaran artikulasi memiliki tujuan untuk membantu siswa mengungkapkan kata-kata dengan jelas dan mengembangkan pengetahuan, pemahaman, serta kemampuan yang dimiliki sehingga siswa dapat membuat suatu keterhubungan antara materi dengan disiplin ilmu. Melalui pembelajaran ini siswa diharapkan mampu bernalar dan komunikasi secara baik dalam suatu masala.
d.       Kelebihan dan Kekurang Model Artikulasi
Menurut Huda (2013:269), kelebihan dari model pembelajaran artikulasi adalah sebagai berikut:
1.)    Siswa menjadi lebih mandiri.
2.)    Siswa bekerja dalam kelompok untuk menuntaskan materi belajar.
3.)    Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu.
4.)    Terjadi interaksi antarsiswa dalam kelompok kecil.
5.)    Terjadi interaksi antarkelompok kecil.
6.)    Masing-masing siswa memiliki kesempatan berbicara atau tampil di depan kelas untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok mereka.
Menurut Istiqomah (2013:107), kelemahan dari model pembelajaran artikulasi adalah sebagai berikut :
(1)   Tidak bisa diterapkan untuk semua mata pelajaran.
(2)   Membutuhkan waktu yang banyak.
(3)   Materi yang dapat dipelajari sedikit.
Berdasarkan teori model pembelajaran artikulasi yang disampaikan oleh para ahli diatas maka yang dimaksud dengan model pembelajaran artikulasi adalah model yang menekankan pada keterampilan berbicara dimana didalamnya terdapat pengumpulan informasi yang kemudian dikomunikasikan kepada teman kelompoknya.


2.      Hakikat Keterampilan Berbicara
a.      Pengertian Keterampilan Berbicara
Menurut Henry Guntur Tarigan (1983 :15 ) dalam bukunya berbicara sebagai suatu keterampilan bahasa mengemukakan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi, atau kata-kata untuk mengekspresikan, mengatakan serta menyatakan pikiran, gagasan dan perasaan. Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan menempatkan persendian.
Arsjad dan Mukti (1993:23) mengemukakan bahwa kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan kalimat-kalimat untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan, pikiran ,gagasan,dan perasaan.
Dalam KBBI (Depdiknas,2008:196) berbicara adalah “berkata, bercakap, berbahasa, atau melahirkan pendapat (dengan tulisan, lisan dsb).
b.      Tujuan Keterampilan Berbicara
Tujuan berbicara adalah alat komunikasi untuk dapat menyampaikan pikiran secara efektif,sebaiknya pembicara memahami apa yang ingin diucapkan atau dikomunikasikan .
Och dan winker (dalam tarigan,1983:15) mengatakan bahwa berbicara mempunyai tiga tujuan umumyaitu :
(1)   Memberitahukan, melaporkan(two inform)
(2)  Menjamu,menghibur(two entertain) dan
(3)   Membujuk, mengajak, mendesak, eyakinkan (two persuade).
c.       Jenis-jenis berbicara
Secara garis besar sesuai dengan proses berbicara dapat dibagi atas dua jenis (lana,1984 : 14).
1.      Berbicara satu arah
Berbicara satu arah merupakan suatu pembicaraan untuk mengungkapkan pikiran,gagasan dan perasaan kepada si pendengar tanpa terjadinya proses interaksi timbal balik contohnya antara lain , pidato , kotbah, wawancara.
Pada kegiatan pidato yang berbicara hanya orator saja sedangkan si pendengar hanya mendengarkan saja kegiatan seperti ini berlangsung dari awal sampai akhir kegiatan berpidato. Kegiatan berbicara hanya terjadi satuh arah dari orator ke pendengar.kegiatan kotbah pun sama dengan pidato tetapi pendengar tidak boleh berbicara karena alasan agama. Sedangkan wawancara termasuk satu arah karena pada kegiatan ini ada pihak yang selalu menjawab atau diwawancarai.
2.      Berbicara dua arah
Berbicara dua arah terjadi apabila si pembicara menyampaikan pikiran dan perasaannya terhadap orang lain kemudian mendapat tanggapan balik dari pendengar secara langsung. Jadi dalam proses berbicara dua arah ini terjadi interaksi timbal balik antara pembicara dengan lawan bicara . pihak –pihak yang terlibat dalam pemvicaraan ini aktif berbicara secara bergantian. Contohnya diskusi , tanya jawab , drama
3.      Hakikat Bahasa Inggris
Bahasa inggris sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan dalam kurikulum yang berpedoman pada pembelajaran komunikatif. Hal ini dapat dilihat dari kompetensi yang termuat dalam kurikulum yang menekankan pada dicapainya pada penguasaan fungsi sosial bahasa sebgai alat komunikasi. Kompetensi dasar sebagai tujuan pembelajaran memliki peranan yang sangat penting yaitu sebagai penentu isi atau materi pelajaran yang akan digunakan .
Menurut halidey,seorang ahli tata bahasa inggris modern, menyatakan bahwa pembelajaran bahasa terdapat dua paradigma tentang bagaimana seharusnya bahasa itu diajarkan , yaitu paradigma behaviorisme dan paradigma kognitivisme atau mentalisme. Paradigma behaviorisme memandang pembelajaran bahasa sebagai proses pembentukan kebiasaan berbahasa dalam kerangka stimulus-respon-penguatan sebagaimana doikembangkan oleh psikolog B.F.Skinner
Lain halnya dengan pandangan behaviorisme penganut kognitivisme atau mentalisme meyakini bahwa proses pembelajaran bahasa tidak sekedar pembentuk kebiasaan tetapi juga sebagai proses kreativitas mental.
B.     Penelitian yang Relevan
Dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh :
1.      Beti novia putri (2014) dengan judul pengaruh model pembelajaran artikulasi terhadap keterampilan siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VI SDIT NURUL FIKRI bekasi timur. Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa hasil belajar siswa pada kelas eksperimen mengalami peningkatan yang pada hasil pretest  pertama adalah 74,39 dan hasil belajarpostest pada kelas eksperimen setelah pengolahan lanjutan adalah 85.78. berdasarkan analisis uji T diketahui nilai kedua (kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah thitung >ttabel  atau 10.325 > 1.680 dengan demikian hipotesis yang diajukan yaitu”terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran artikulasi dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional atau tradisional pada pelajaran bahasa indonesia kelas IV SDIT NURUL FIKRI bekasi timur) “dapat diterima”.
C.    Kerangka Berpikir
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2.Guru menyampaikan materi.
3.Untuk mengetahui daya serap siswa, guru membentuk kelompok berpasangan dua orang.
4.Guru menegaskan salah satu siswa dari pasangan itu untuk menceritakan materi yang telah disampaikan guru dan pasangannya mendengarkan sambil membuat catatan kecil, kemudian keduanya berganti peran. Begitu pula kelompok lainnya.
5.Guru menugaskan siswa secara bergiliran atau diacak untuk menyampaikan hasil wawancaranya dengan pasangannya sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya.
6.Guru mengulangi atau menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami oleh siswa.
7.Kesimpulan atau penutup.
1.Ujaran bahasa yang tidak bervariasi.
2. Tidak adanya perbedaan dalam menghasilkan fonem maupun alofon
3. Tidak adanya tekanan kata, tekanan struktur ritmis dan intonasi
Berdasarkan kerangka teoritis yang telah diuraikan maka penelitian ini dapat dibuatkan kerangka asebagai berikut :
Keterampilan berbicara siswa :
1.       grammar
2.       vocabulary
3.       pronunciation

 





















D.    Hipotesis Penelitian
H0          : tidak terdapat pengaruh dari penggunaan model pembelajaran artikulasi     
terhadap keterampilan berbicara siswa pada amata pelajaran bahasa indonesia  kelas IV SD HARAPAN BANGSA .
H1          : terdapat pengaruh dari penggunaan model pembelajaran artikulasi terhadap                 
keterampilan berbicara siswa pada mata pelajaran bahasa inggris kelas IV SD  HARAPAN BANGSA.
























BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.    Tempat dan Waktu Penelitian
1.      Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di SD HARAPAN BANGSA yang bertempat di Jl. Ahmad yani No. 32 Jatiasih – Bekasi . subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV.
2.      Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada tahun ajaran 2016/2017 . Dengan rencana penelitian sebagai berikut
 







B.     Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan kuantitatif. Maka metode yang digunakan kali ini adalah metode penelitian eksperimen.
C.    Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini, terdiri dari satu variabel bebas (independent Variabel ) dan satu variabel terikat (Dependent Variabel), yaitu :
1.      Model Pembelajaran Artikulasi (X)
2.      Keterampilan Berbicara (Y)
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran artikulasi terhadap keterampilan berbicara siswa.
D.    Populasi Dan Sampel Penelitian
1.      Populasi
Menurut Sulistiono  (2010) populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti . populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya , menurut Sugiyono (2012:117). Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas IV SD HARAPAN BANGSA yang berjumlah 23
2.      Sampel  
Sampel adalah bagian suatu subjek atau objek yang mewakili populasi.  Dalam penelitian ini digunakan teknik jenuh . alasan menggunakan teknik jenuh dikarenakan jumlah populasi tidak banyak .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar